Minggu, 25 Desember 2011

Wisata Pasar triwindu Kota Solo

Pasar Barang Antik Triwindu Solo



Pasar Triwindu adalah sebuah pasar tradisional menjual barang antik yang letaknya di depan Mangkunegaran. Meskipun pasar tradisional, pasar barang kuno yang beralamat di jalan Diponegoro Solo ini, mempunyai tampilan baru yang fresh, modern dan tetap berbudaya, setelah dilakukan pemugaran pada tahun 2010. Koleksi barang antik yang di jual di Pasar Triwindu sangat beragam mulai dari koin, radio, keris, lampu, dll. Selain itu, di pasar yang pernah berganti nama menjadi Pasar Windujenar, juga menyediakan suvenir yaitu wayang kulit, permainan anak , patung kayu maupun perunggu, dan berbagai lampu hias yang merupakan produk reproduksi dari benda-benda antik/ kuno.
Pasar Barang Antik Triwindu sebagai salah satu tujuan wisata di kota Solo (Surakarta) awalnya adalah sebagai hadiah ulang tahun yang kedua puluh emat dari GRAy. Nurul Khamaril, puteri Mangkunegori VII. Pada mulanya jual beli di pasar ini menggunakan sistem barter antar pedagang dengan menata meja-meja seadanyanya, kemudian sejak tahun 1960 para pedagang mulai mendirikan kios.
Kota Solo sebagai Ibu kota Batik sekaligus barometer tumbuh kembangnya budaya Jawa, telah membuktikan bahwa modernisasi tidaklah menggerus budaya asli dan peninggalkan-peninggalan kebudayaan kota ini. Pasar ini adalah sebuah heritage masa lalu yang tetap lestari meskipun dengan bangunan pasar yang baru dan megah. Bahkan area sekitar Pasar Triwindu ini dijadikan sebagai pusat kesenian Kota Solo dan sering digelar event-event lokal maupun event tingkat Nasional, seperti SIEM, Solo Batik Carnival (SBC), dll
Untuk menuju Pasar Triwindu ini sangatlah mudah, dikarenakan letaknya di tengah kota, maka wisatawan lokal maupu mancanegara sangat mudah menemukannya. Dari tahun ke tahunpun perdagangan di pasar ini semakin meningkat seiring dengan pemahaman masyarakat akan benda antik yang nilainya tidak terhingga, sehingga banyak masyarakat mulai gemar mengkoleksi benda-benda antik ini. Selain itu Pasar Triwindu juga sebagi pusat perdagangan barang Antik pulau Jawa, sekaligus pusat grosir produk kerajinan/ souvenir reproduksi.

Sumber By pasartriwindu.net

Wisata Pasar Klewer Kota Solo

Pasar Klewer
Kota Surakarta - Jawa Tengah - Indonesia

Foto 1 dari  1Gapura depan Pasar KlewerFoto 1 dari  1Gapura depan Pasar Klewer
Foto 1 dari  1
Gapura depan Pasar Klewer

A. Selayang Pandang

Pasar Klewer merupakan salah satu pusat perbelanjaan yang cukup terkenal di Solo, Kota Surakarta, Jawa Tengah. Pasar yang letaknya bersebelahan dengan Keraton Surakarta ini merupakan pusat perbelanjaan kain batik terlengkap, sehingga menjadi tempat rujukan kulakan para pedagang, baik dari yogyakarta, Surabaya, Semarang, dan kota-kota lain di pulau Jawa. Selain itu, kain batik di pasar ini juga terkenal dengan harganya yang murah jika dibandingkan dengan pusat perbelanjaan di kota-kota lain di Indonesia. Pasar yang dibangun pada tahun 1970 ini, terdiri dari dua lantai yang cukup luas. Pasar ini menampung sejumlah 1.467 pedagang dengan jumlah kios sekitar 2.064 unit.
Menurut cerita masyarakat setempat, pada zaman pendudukan Jepang di Indonesia, kawasan ini merupakan tempat pemberhentian kereta api, yang juga digunakan sebagai  tempat jualan para pedagang pribumi. Karena dijadikan sebagai tempat jualan itulah kemudian terkenal dengan sebutan Pasar Slompretan. Kata slompretan diambil dari suara kereta api ketika akan berangkat yang mirip dengan tiupan terompet (slompret). Pasar Slompretan ini merupakan tempat para pedagang kecil yang menawarkan barang dagangan berupa kain batik yang ditaruh pada pundaknya sehingga tampak berkeleweran jika dilihat dari kejauhan. Dari barang dagangan (kain batik) yang berkeleweran inilah kemudian pasar ini terkenal dengan nama Pasar Klewer hingga sekarang.

Pasar Klewer

B. Keistimewaan

Bagi Anda pecinta batik, terasa belum lengkap jika belum melihat berbagai macam koleksi batik di Pasar Klewer. Dengan mengunjungi pasar ini, pelancong akan mendapatkan kesan tersendiri yang tak pernah didapatkan di pasar maupun pusat perbelanjaan batik lain pada umumnya. Sebab, di pasar ini koleksi jenis dan motif batiknya lengkap dan harganya pun cukup murah. Pasar ini juga menjadi pusat perbelanjaan kain batik terbesar di seluruh Jawa Tengah. Adapun harga kain batik di pasar ini mulai dari belasan ribu hingga ratusan ribu rupiah, tergantung kualitas, motif, dan jenis kain batiknya.

Suasana jual beli di Pasar Klewer
Sentra grosir kain batik ini menyediakan berbagai macam motif dan jenis batik, di antaranya batik tulis motif Solo, batik cap (print), dan motif-motif batik lainnya. Ada juga berbagai jenis batik Surakarta, seperti batik asli Surakarta, batik antik kraton Surakarta, batik pantai kraton Surakarta, daster batik Surakarta, batik saerah Surakarta, batik putri Solo, batik "kelelawar" Surakarta, dan lain-lain. Selain itu, terdapat juga berbagai macam jenis batik Yogyakarta, Pekalongan, Banyumas, Madura, Betawi, dan berbagai jenis batik dari kota-kota lainnya. Di pasar ini juga menyediakan kain batik untuk baju, sprei, sarung bantal, dan segala aksesoris-aksesoris lain yang berbau batik.
Saat membeli kain batik di pasar ini, setiap pengunjung disarankan untuk menawarnya terlebih dahulu. Jika pengunjung pandai menawar, harga yang diajukan penjual akan berkurang. Kesesuaian kualitas dengan harga mungkin juga menjadi patokan bagi penjual dalam menawarkan dagangannya. Menurut pengakuan para pembeli, berbelanja di pasar ini pasti tidak akan mengecewakan, sebab di samping harganya yang terjangkau, keramahan para penjual juga membuat para pembeli merasa nyaman.
Selain terkenal dengan pusatnya batik, pasar yang di dalamnya terdapat 2.064 unit kios ini juga menyediakan aneka macam barang-barang kebutuhan lainnya, di antaranya pakaian non batik, makanan, kerajinan, pernak-pernik, barang-barang elektronik, emas, peralatan dapur, dan masih banyak lagi. Selain itu, terdapat juga kerajinan-kerajinan khas masyarakat Solo yang berkualitas ekspor, di antaranya cermin kayu ukir, kaca ukir, dan berbagai macam suvenir yang berbahan dasar kaca.
Jika dilihat dari gaya arsitekturnya, bangunan Pasar Klewer terdiri dari dua lantai yang dihubungkan dengan tangga yang cukup luas. Dengan tangga yang seperti ini, suasana berdesak-desakan para pengunjung antarlantai dapat terhindarkan. Keistimewaan lainnya ialah letaknya bersebelahan dengan Keraton Surakarta. Sehingga selain berbelanja, pelancong dapat juga menengok keindahan keraton itu.
Pengunjung juga dapat berkunjung ke pabrik batik tulis yang berada di Kampung Kauman dan Kampung Batik Laweyan yang berjarak sekitar 5 km dari pasar ini. Di tempat tersebut, wisatawan dapat melihat secara langsung proses pembuatan batik, mulai dari pembuatan pola sampai dengan proses pewarnaannya. Di samping melihat tempat produksinya, di kampung ini juga tersedia kios-kios pakaian batik yang siap pakai.
Keistimewaan lainnya, sebelum membeli kain batik pelancong juga dapat memesan atau berkonsultasi melalui fasilitas internet. Para pedagang kain batik di pasar ini sebagian sudah menggunakan media transaksi via internet atau sistem online. Sehingga pelancong dapat memilih dan memesan terlebih dahulu sebelum datang ke lokasi pasar ini.  
Selain berbelanja, pengunjung juga sekaligus dapat berwisata melihat situs sejarah seperti Keraton Surakarta, Masjid Agung, Alun-alun Utara, dan situs sejarah lainnya. Pengunjung juga dapat melihat acara tahunan yang diselenggarakan oleh Keraton Surakarta, yaitu sekaten. Dalam acara ini terdapat berbagai macam pentas kesenian, pertunjukan kebudayaan, dan pasar tiban (pasar malam) yang digelar di alun-alun utara tersebut, tepatnya di sebelah utara Pasar Klewer.

C. Lokasi

Pasar Klewer terletak di sebelah barat Keraton Surakarta, Kota Surakarta, Propinsi Jawa Tengah, Indonesia.

D. Akses

Untuk menuju lokasi Pasar Klewer perjalanan dapat dimulai dari Terminal Tirtonadi. Dari terminal ini, wisatawan dapat naik angkutan kota atau taksi menuju lokasi pasar. Perjalanan dari Terminal Tirtonadi sampai ke Pasar Klewer biasanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit.

E. Harga Tiket

Memasuki kawasan Pasar Klewer pelancong tidak dipungut biaya. Namun, bagi wisatawan yang membawa kendaraan pribadi dikenai biaya parkir.

F. Akomodasi dan Fasilitas Lainnya

Di sekitar kawasan Pasar Klewer ini terdapat berbagai macam fasilitas, di antaranya area parkir, masjid, pusat informasi belanja, studio karaoke, kamar mandi, dan beberapa kios masakan khas Solo, yaitu thengkleng, racikan salat, krupuk karak, timlo Solo, sayur tumpang, dan lain-lain.

Sumber By wisatamelayu.com

Sejarah kota solo (solo punya cerita)

asal mula kota Solo

Mungkin banyak orang belum tahu bawa asal mula kota surakarta berawal dari sebuah desa kecil bernama desa Sala, begini ceritanya:

Pada tahun 1742 terjadi peristiwa "Geger Pecinan", yaitu peristiwa pemberontakan orang-orang cina yg dipimpin mas Garendi atau Sunan Kuning terhadap kekuasaan kolonial Belanda di pusat kerajaan Mataram di Kartasura. Pemberontakan ini mengakibatkan kerusakan yang sangat parah di pusat keraton.

Mengetahui hal ini, Sri Susuhunan Paku Buwana II memerintahkan beberapa abdi dalemuntuk mencari lokasi baru yang akan dijadikan tempat dibangunnya pusat keraton yang baru. Atas, perintah tersebut maka dicarilah beberapa tembpat baru. Dari proses pencarian, ditemukan tiga desa, yaitu Desa Kadipala, Desa Sala, dan desa Sana Sewu. Setelah berunding, akhirnya dipilihlah Desa Sala untuk diajukan kepada Sunan PB II sebagai pusat keraton Mataram yang baru.

Kemudian, PB II memerintahkan utusan untuk meninjau Desa Sala sekaligus meminta izin secara baik-baik kepada kepala dusun Sala, yaitu Kyai Sala. Kyai Sala mengajukan beberapa persyaratan kepada sang Sunan. Setelah beberapa persyaratan dilakukan, maka secara resmi dilakukan bedol Kraton secara besar-besaran pada !& Februari 1747. 

Pemberian nama Surakarta sendiri masih dikaitkan dengan nama keraton sebelumnya yaitu keraton Kartasura. Pemberian nama Surakarta ini diharapakan menjadikan Kerajaan Mataram memperoleh kembali kejayaan dan ketemtraman seperti sebelumnya.

Pada perkembangan selanjutnya, daerah kerajaan Surakarta Hadariningrat, mengalami pembagian wilayah akibat perang saudara yang dilatbelakangi oleh politik "devide et empera" Belanda. Pada perjanjian Giyanti, 13 Februari 1755, keraton Mataram dipecah menjadi dua, yaitu Kasunanan dan Kasultanan Ngayogyakarta. Kedua wilayah tersebut kemudian dipecah lagi menjadi empat kerajaan melalui Perjanjian Salatiga tahun 1757, sehingga bertambah dua kerajaan lagi yaitu Kasunanan Mangkunegaran (Pecahan dari Surakarta Hadiningrat dan Kasultanan Pakualaman (pecahan dari Ngayogyakarta Hadiningrat).

Dengan demikian, di Surakarta terdapat dua kerajaan yang masih ada hingga kini. Lalu, secara de facto, pada tanggal 16 Juni 1946 terbentuklah Pemerintah Daerah Kota Surakarta yang berhak mengatur dan mengurus ruma tangganya sendiri, yang sekaligus menghapus kekuasaan Kerajaan Kasunanan dan Mangkunegaran. Maka, tanggal 16 Juni diperingati sebagai hari jadi Kota Surakarta(solo)
 
Sumber By obonkobong.com

Slogan Kota Solo


Surakarta memiliki semboyan
"Berseri" 
yang singkatannya:
"Bersih, Sehat, Rapi, dan Indah"

sebagai slogan pemeliharaan keindahan kota


  slogan pariwisata:
Solo, The Spirit of Java (Jiwanya Jawa)
sebagai upaya pencitraan kota Solo sebagai pusat kebudayaan Jawa.
Sumber By Surakarta.go.id

Wisata Kraton Surakarta Hadiningrat Kota Solo

 
Sebagai salah satu rahim kebudayaan Jawa, Kraton Kasunanan Surakarta tetap berdiri tegak menjadi monumen kejayaan budaya Jawa Kuno dengan sentuhan Eropa yang menawan.
SURAKARTA HADININGRAT PALACE
Baluwarti Village, Kliwon Market District, Surakarta

KRATON SURAKARTA HADININGRAT - Istana Jawa Kuno dengan Sentuhan Eropa

Kraton Surakarta Hadiningrat atau yang kemudian lebih dikenal sebagai Kraton Kasunanan Surakarta telah berdiri sejak ratusan tahun lalu. Kraton ini adalah “penerus” dari Kerajaan Mataram Islam. Setelah berganti-ganti pusat pemerintahan mulai dari Kotagede, Pleret hingga Kartasura, pemberontakan kuning oleh etnis Tionghoa memaksa Mataram untuk memindahkan Kratonnya ke Desa Sala. Konflik internal dan campur tangan Belanda kemudian memaksa kerajaan ini pecah menjadi Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta pada tahun 1755 melalui perjanjian Giyanti.
Perjalanan diawali dari gerbang Kraton paling utara yaitu gapura Gladag. Gapura ini dijaga oleh dua arca Dwarapala bersenjata gada. Menyusuri ruas jalan yang teduh dengan pohon beringin tua di kanan kirinya, YogYES sampai di Alun-Alun Utara. Layaknya gaya khas sebuah tata kota tua, Kraton Kasunanan Surakarta terletak dalam satu kompleks dengan Alun-Alun dan Masjid Agung. Sebuah pendapa terbuka besar berdiri megah tepat di seberang alun-alun, sementara bangunan utama kraton berada di belakangnya. Di dalam bangunan utama ini terdapat sebuah museum yang dulunya merupakan kompleks perkantoran pada jaman Paku Buwono X. Bangunan ini terbagi atas 9 ruang pameran yang berisi aneka macam benda dan pusaka peninggalan Kraton, hingga diorama kesenian rakyat dan upacara pengantin kerajaan lengkap dengan berbagai macam peralatannya.
Sebuah lorong sempit menghubungkan museum dengan kompleks utama kraton. Untuk menghormati adat istiadatnya, kita tidak diperbolehkan mengenakan celana pendek, sandal, kaca mata hitam, dan baju tanpa lengan. Sandal juga dilepas dan kita harus berjalan tanpa alas kaki di atas pasir pelataran yang konon diambil dari Pantai Selatan. Pohon Sawo Kecik yang menaungi pelataran membuat udara senantiasa sejuk. Secara jarwa dhosok, nama pohon itu dimaknai sebagai lambang yang artinya sarwo becik atau serba baik. Yang menarik adalah patung-patung Eropa yang menghiasi istana sehingga menghasilkan kombinasi apik arsitektur Jawa Kuno dengan sentuhan Eropa. Patung-patung ini merupakan hadiah dari Belanda yang dulu memang memiliki hubungan sangat dekat dengan Kasunanan Surakarta. Sebuah menara tinggi di sebelah selatan pelataran bernama Panggung Songgobuwono menjadi ciri khas kraton ini.
Belum puas menjelajahi bangunan kraton, YogYES meminta seorang tukang becak untuk mengantar mengelilingi seluruh kompleks kraton. Duduk santai di dalam becak menyusuri jalan-jalan di dalam kraton menjadi pengalaman tersendiri. Sampai di Alun-Alun Selatan, terlihat dua gerbong kereta tua terparkir disana, yaitu Kereta Pesiar Raja dan Kereta Jenazah. Namun gerbong-gerbong ini sudah tidak lagi berfungsi karena rel-relnya sudah banyak yang berubah menjadi pemukiman penduduk. Di sisi alun-alun yang lain, sekawanan kerbau putih yang terkenal dengan sebutan kebo bule Kyai Slamet terlihat asyik merumput. Kerbau-kerbau ini dianggap keramat oleh masyarakat Solo dan selalu diarak pada kirab sekatenan ataupun kirab malam 1 Sura.

Jadwal Buka
Senin - Kamis pk 09.00 - 14.00 WIB
Sabtu - Minggu pk 09.00 - 13.00 WIB

Harga Tiket
Bangsal Pagelaran: Rp 2.500
Museum: Rp 8.000
Ijin kamera/video: Rp 3.500 

Sumber By  YogYES.COM